Si Pitung

Oleh Jagad-Lelono

Tersebutlah seorang muda yang gagah perkasa, seorang pendekar dari tanah betawi, tepatnya dari kampung Rawabelong di Jakarta Barat. Banyak orang memanggilnya dengan sebutan Si Pitung, atau Bang Pitung. Entah dari mana asalanya nama tersebut berasal, sebagian orang pun sudah tidak ada lagi yg mengingat nama aslinya. Mungkin karena dia sering membawa tongkat pendek, semacam pentungan sehingga kerap dipanggil Pentung atau Pitung. Ada juga cerita yang mengatakan kerap kali pemuda ini hal-hal yang berkaitan dengan bilangan tujuh (pitu). Puasa ngebleng tujuh hari (pitung dina), tanpa makan dan minum. Semedi (bertapa) di sungai, tujuh hari tujuh malam (pitung awan, pitung bengi). menguasai tujuh jurus sakti mandraguna (pitung langkah)..dan banyak lagi yang berkaitan dengan angka tujuh
 
Si Pitung dididik oleh kedua orang tuanya, yang sangat berharap dia menjadi anak yang saleh, taat agama dan senang membantu orang yang lemah. Ayahnya Bang Piun dan Ibunya Mpok Pinah lalu menitipkan Si Pitung untuk belajar mengaji dan bahasa Arab kepada Haji Naipin, di kampung seberang yang cukup jauh dari Rawabelong, hingga menginjak usia dewasa muda 
 
Kembali ke desanya, di kampung Rawabelong, Si Pitung banyak menyaksikan penderitaan rakyat miskin. Lalu dia mulai mencuri makanan atau apa saja dari para perampok, dan dibagikan pada rakyat miskin. Kadang dia mengajak beberapa kawan merampas dan merampok harta-harta lintah darat, orang kaya yg suka meminjamkan uang pada rakyat kecil dengan bunga setinggi langit. Lagi uang hasil rampasannya ini dibagikan kepada rakyat miskin yang memerlukannya.
 
Si Pitung seringkali membela mereka yg dianiaya oleh para pejabat demi kepentingannya sendiri. Gerakan Pitung semakin berani. Sekarang dia mulai membela kepentingan rakyat, atas tindakan semena-mena yang dilakukan VOC (Kumpeni ) Belanda. Perlawan Si Pitung kepada VOC (Kumpeni) Belanda, semakin luas dan mulai mengganggu kepentingan VOC (kompeni) Belanda yang saat itu memegang kekuasan di negeri Indonesia.
 
Polisi Belanda lalu mengirim pasukannya untuk menangkap Si Pitung, namun berkali-kali usaha Belanda tidak menghasilkan apa-apa. Si Pitung selalu lolos dengan mudah dari sergapan polisi VOC, karena dia mempunyai ilmu kebal terhadap senjata tajam bahkan sejata api.
 
Semua usaha Kompeni sia-sia, hingga akhirnya mereka terpikir untuk menemui guru Si Pitung, Haji Naipin. Pak haji diisandera dan ditodong dengan senjata api agar memberikan rahasia melemahkan kesaktian Si ptung. Haji Naipin tidak tahan menerima siksaan Kumpeni, menyerah dan memberitahu kelemahan-kelemahan Si Pitung.
 
Suatu saat, ketika Kumpeni mengetahui keberadaan Si Pitung, mereka langsung menyergap secara tiba-tiba. Pitung mengadakan perlawan, namum akhirnya tewas ditembus peluru perak, rahasia kelemahan Si Pitung yang didapat dari gurunya Haji Naipin.

This entry was posted in History. Bookmark the permalink.

2 Responses to Si Pitung

  1. agung says:

    Api iki mbang…

  2. agung says:

    Api iki mbang… thanks yo Agung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s